
Masalah Utama Server Database Tradisional
Di artikel *batch* sebelumnya, kita bahas tentang Edge Computing (menaruh kode *Backend* menyebar di puluhan negara sekaligus agar pengunjung mendapat respon secepat kilat). TAPI, kecepatan eksekusi JS di *Edge Jakarta* jadi percuma jika saat kodenya berjalan, ia tetap harus terbang memanggil server Database PostgreSQL raksasa yang lokasinya terpaku diam di Virginia, Amerika.
Untuk membuat *database* bisa ikut menyebar (di-copy) ke 100 negara sekaligus layaknya CDN gambar, kita tidak bisa menggunakan PostgreSQL. Mesinnya terlalu berat. Industri butuh mesin *database* SQL yang ukurannya sekecil lalat.
Selamat Datang Kembali, SQLite!
SQLite adalah database tertua dan paling banyak dipakai di bumi (ada di setiap HP Android, iOS, dan Browser), namun dulunya diabaikan oleh Web Developer Backend karena SQLite hanya berbentuk Sebuah File Tunggal (.db) yang ditaruh di *folder* lokal, bukan sebuah server menyala. Dulu, SQLite rusak jika diakses banyak orang bersamaan.
Tiba-tiba, startup modern (seperti Turso dan Cloudflare D1) melakukan inovasi magis. Mereka membungkus file SQLite yang super ringan itu menjadi sebuah Serverless / Edge Database.
Cara Kerja Edge Database (Distributed SQLite)
Sistem ini bekerja dengan cara replikasi data ke seluruh dunia:
- Kamu memiliki 1 Database Utama (Primary) di Amerika. Jika ada transaksi Pembayaran (Tulis/INSERT), datanya masuk ke sini.
- Secara Real-Time (milidetik), sistem ini akan memfotokopi file SQLite tersebut dan menyebarkannya ke 50 negara (Replika Pembaca).
- Saat warga Jakarta membuka website E-Commerce milikmu, logika *Edge Computing* akan menarik katalog barang dari file SQLite yang secara fisik berada di server Cloudflare Jakarta!
Kelebihan Menggemparkan (Plus)
Karena *Database*-nya sangat kecil, berada satu mesin dengan logika Backend-nya, dan lokasinya dekat dengan pengunjung, waktu mengambil data turun dari 300ms menjadi 0.5 Milidetik (Nyaris Nol!). Selain itu, karena berkonsep Serverless (Database hanya menyala/dihitung biayanya saat ada *request* masuk), tagihan *cloud*-mu bisa hemat 90% dibanding menyewa Postgres AWS RDS bulanan.
Kekurangan (Minus)
Edge Database berbasis SQLite ini luar biasa cepat untuk Membaca (Read-Heavy). Namun, jika websitemu menuntut lalu lintas Menulis (Write-Heavy) yang sangat intens secara bersamaan (misal: Jutaan orang *spam* komentar *Live Chat* detik itu juga), proses replikasi SQLite global akan terhambat dan *error* (Write Bottleneck). Jadi, kenali pola lalu lintas (Traffic) aplikasimu terlebih dahulu!
Mau langsung pakai template?
Jelajahi template gratis dan premium di TampilKit untuk mempercepat proses development project kamu.
Browse Templates