
JavaScript Sang Tahanan Browser
Mari kembali ke awal tahun 2000-an. Pada masa itu, bahasa pemrograman punya tempatnya masing-masing. Jika kamu ingin membuat *Backend Server*, kamu harus belajar PHP atau Java. Lalu, apa tugas JavaScript? Tugas JavaScript pada masa itu sangat remeh: Ia hanya hidup di dalam aplikasi Browser (seperti Internet Explorer) untuk membuat efek kursor berkedip atau animasi hujan salju di layar.
JavaScript adalah bahasa yang "terpenjara". Ia tidak bisa menyentuh file di dalam komputermu, dan ia tidak bisa hidup tanpa Browser.
Lahirnya Mesin V8 Milik Google Chrome
Pada tahun 2008, Google merilis *browser* Chrome. Agar Chrome bisa berlari sangat cepat, Google menciptakan mesin super canggih untuk mengeksekusi JavaScript. Mesin ini dinamakan V8 Engine.
V8 Engine ini ibarat mesin Ferrari yang terkurung di dalam badan mobil Odong-Odong (Browser). Mesin ini sangat luar biasa cepat.
Kelahiran Node.js (Membebaskan Sang Tahanan)
Pada tahun 2009, seorang *programmer* jenius bernama Ryan Dahl memiliki ide gila: "Bagaimana jika kita mencongkel mesin V8 ini keluar dari Google Chrome, lalu kita tanamkan mesin ini langsung ke sistem operasi Windows/Linux?"
Ryan Dahl berhasil melakukannya, dan ia menamai hasil karyanya itu Node.js.
Dampak Revolusioner Node.js
Berkat Node.js, JavaScript resmi terbebas dari penjara Browser! Kini, JavaScript bisa berjalan langsung di komputer layaknya bahasa C atau PHP. Ia bisa membuat file, menghapus folder, dan Membangun Server Web (Backend).
Inilah yang membuat Node.js sangat viral. Sebelumnya, *programmer* harus belajar 2 bahasa (Belajar HTML/JS untuk *Frontend*, lalu belajar PHP untuk *Backend*). Sekarang, dengan 1 bahasa saja (JavaScript), kamu bisa membangun *Frontend* (React) DAN *Backend* (Node.js) sendirian! Fenomena inilah yang melahirkan profesi baru bergaji tinggi: Fullstack JavaScript Developer.
Mau langsung pakai template?
Jelajahi template gratis dan premium di TampilKit untuk mempercepat proses development project kamu.
Browse Templates