Back to blog
Best Practice

10 Kebiasaan Buruk Developer yang Bikin Kode Susah Dibaca Tim

Kebiasaan coding yang terlihat sepele ternyata bisa membuat kode jadi mimpi buruk buat tim. Kenali dan hindari sebelum terlambat.

super admin·16 Juni 2026·3 min read
10 Kebiasaan Buruk Developer yang Bikin Kode Susah Dibaca Tim
Article Content

Kode yang kamu tulis bukan hanya untuk dirimu sendiri

Salah satu kesalahan terbesar developer pemula adalah menulis kode seolah hanya dia yang akan membacanya. Padahal dalam tim, kode yang baik adalah kode yang bisa dipahami orang lain tanpa penjelasan panjang. Berikut 10 kebiasaan yang perlu kamu hindari.

1. Penamaan variabel yang tidak bermakna

Nama seperti x, temp, data2, atau arr hampir tidak memberikan informasi apapun. Gunakan nama yang mendeskripsikan isi variabel tersebut.

// Buruk
const x = await fetch('/api/users');

// Baik
const userListResponse = await fetch('/api/users');

2. Fungsi yang terlalu panjang

Fungsi yang terlalu panjang susah dibaca, susah di-test, dan susah di-debug. Idealnya satu fungsi hanya melakukan satu hal. Kalau fungsimu sudah lebih dari 40-50 baris, pertimbangkan untuk dipecah menjadi fungsi-fungsi kecil yang lebih fokus.

3. Magic number tanpa keterangan

Magic number adalah angka yang muncul tiba-tiba di kode tanpa penjelasan.

// Buruk
if (user.role === 3) { ... }

// Baik
const ROLE_ADMIN = 3;
if (user.role === ROLE_ADMIN) { ... }

4. Komentar yang tidak berguna

Komentar seharusnya menjelaskan mengapa, bukan apa. Komentar seperti // increment i by 1 di atas baris i++ tidak menambah nilai apapun.

5. Tidak konsisten dalam formatting

Kadang pakai tab, kadang pakai spasi. Kadang single quote, kadang double quote. Inkonsistensi ini membuat diff di Git jadi berantakan dan susah di-review. Gunakan ESLint dan Prettier sejak awal project.

6. Copy-paste kode tanpa refactoring

Duplikasi kode adalah biang masalah. Ketika logika perlu diubah, kamu harus mengubah di banyak tempat dan sering lupa salah satu. Buat fungsi atau hook yang bisa digunakan ulang.

7. Tidak menangani error

Banyak developer hanya menulis happy path dan lupa menangani kasus error. Akibatnya, ketika terjadi masalah, aplikasi crash tanpa pesan yang jelas.

// Buruk
const data = await fetchUser(id);
setUser(data.user);

// Baik
try {
  const data = await fetchUser(id);
  setUser(data.user);
} catch (error) {
  console.error('Failed to fetch user:', error);
  setError('Gagal memuat data pengguna.');
}

8. Commit message yang tidak informatif

Pesan commit seperti "fix bug", "update", atau "asdfgh" tidak memberikan konteks apapun saat kamu perlu menelusuri history perubahan. Gunakan format yang jelas: fix: handle null response on user profile endpoint.

9. Tidak membaca dokumentasi resmi

Banyak developer langsung mencari solusi di Stack Overflow tanpa membaca dokumentasi resmi terlebih dahulu. Padahal dokumentasi resmi sering kali lebih akurat, lebih lengkap, dan lebih up-to-date.

10. Takut menghapus kode lama

Kode yang dikomentari tapi tidak dihapus akan menumpuk dan membuat file jadi berantakan. Kalau kamu menggunakan Git, kamu tidak perlu takut kehilangan kode lama. Hapus dengan percaya diri karena Git akan selalu menyimpan historynya.

Kesimpulan

Kebiasaan coding yang baik tidak terbentuk dalam semalam. Mulailah dari satu kebiasaan, perbaiki, lalu lanjut ke berikutnya. Kode yang rapi bukan hanya soal estetika, tetapi soal efisiensi tim dan kemudahan maintenance jangka panjang.

Mau langsung pakai template?

Jelajahi template gratis dan premium di TampilKit untuk mempercepat proses development project kamu.

Browse Templates